Scroll berlebihan kini menjadi kebiasaan yang sulit dihindari. Banyak orang tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam menelusuri berita buruk, video negatif, atau informasi yang memicu rasa cemas. Dalam beberapa waktu terakhir, fenomena ini dikenal dengan istilah doomscrolling, yaitu kebiasaan terus menggulir informasi negatif di media sosial atau internet tanpa henti.
Fenomena doomscrolling semakin ramai dibahas karena kebiasaan digital masyarakat berubah cepat. Akses informasi kini terasa sangat mudah dan nyaris tanpa batas. Berita tentang ekonomi, konflik, bencana, hingga persoalan sosial muncul silih berganti di layar ponsel. Tidak sedikit orang merasa perlu terus mengikuti perkembangan terbaru, meski akhirnya justru merasa lelah secara emosional.
Doomscrolling sering terjadi tanpa disadari. Awalnya hanya ingin melihat satu berita atau membuka media sosial beberapa menit. Namun, algoritma platform digital membuat pengguna terus menerima informasi serupa. Akibatnya, waktu berlalu tanpa terasa dan pikiran dipenuhi banyak informasi yang belum tentu semuanya dibutuhkan.
Salah satu dampak paling terasa dari kebiasaan ini adalah meningkatnya rasa cemas. Terlalu sering menerima berita negatif dapat membuat seseorang merasa dunia sedang tidak baik-baik saja. Pikiran menjadi lebih mudah gelisah, sulit rileks, bahkan sulit fokus pada pekerjaan atau aktivitas harian.
Selain memengaruhi suasana hati, doomscrolling juga berkaitan dengan kualitas tidur. Banyak orang membuka media sosial hingga larut malam untuk mengikuti informasi terbaru. Paparan layar terlalu lama dan banjir informasi sebelum tidur dapat membuat pikiran tetap aktif. Akibatnya, tidur terasa kurang nyenyak dan tubuh sulit benar-benar beristirahat.
Kebiasaan ini juga perlahan mengurangi kemampuan seseorang menikmati momen sederhana. Saat perhatian terlalu banyak tersita pada berita atau informasi digital, waktu bersama keluarga, aktivitas santai, atau istirahat sering terasa terganggu. Tidak sedikit yang akhirnya merasa cepat lelah meski tidak melakukan pekerjaan fisik berat.
Meski begitu, doomscrolling bukan kebiasaan yang tidak bisa diubah. Membatasi waktu penggunaan media sosial menjadi langkah awal yang cukup membantu. Banyak orang mulai menentukan waktu khusus untuk membaca berita agar tidak terus-menerus terpapar informasi sepanjang hari.
Mengurangi penggunaan ponsel sebelum tidur juga dapat membantu pikiran lebih rileks. Mengganti waktu layar dengan aktivitas ringan seperti membaca buku, berjalan santai, atau mendengarkan musik tenang sering memberi dampak positif bagi suasana hati.
Di era informasi cepat, mengikuti perkembangan tetap penting. Namun, menjaga batas juga menjadi hal yang tidak kalah penting. Saat pikiran mulai terasa penuh, mungkin sudah waktunya memberi jeda sejenak agar perhatian kembali terarah pada hal-hal yang benar-benar membawa manfaat.

