Jakarta – Pariwisata dan budaya tidak lagi dipandang semata sebagai ruang pelestarian tradisi atau tujuan wisata. Di tengah upaya memperkuat ekonomi daerah, kedua sektor tersebut dinilai mampu membuka lebih banyak lapangan kerja, menggerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta mendorong kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal.
Pandangan itu disampaikan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor yang menegaskan bahwa pengembangan sektor pariwisata dan budaya harus menjadi bagian dari strategi pembangunan ketenagakerjaan nasional. Menurutnya, ketika sektor budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM berkembang secara beriringan, peluang kerja bagi masyarakat akan semakin luas.
Pemerintah memandang setiap daerah memiliki keunggulan yang dapat dikembangkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi. Karena itu, pembangunan ketenagakerjaan dinilai perlu berjalan seiring dengan penguatan potensi unggulan daerah agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
Kementerian Ketenagakerjaan terus memperkuat berbagai program peningkatan kompetensi tenaga kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan industri pariwisata dan ekonomi kreatif. Pelatihan tersebut mencakup bidang perhotelan, pemandu wisata, tata boga, pengelolaan kegiatan atau event, hingga desain produk ekonomi kreatif.
“Kami ingin masyarakat lokal menjadi pelaku utama pembangunan pariwisata di daerahnya sendiri. Karena itu, peningkatan kompetensi menjadi kunci agar peluang ekonomi yang tumbuh dapat dimanfaatkan secara optimal oleh tenaga kerja lokal,” kata Afriansyah Noor saat menghadiri Festival Minangkabau 2026 di Istano Basa Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (25/6/26).
Selain menyiapkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri, Kemnaker juga mendorong penguatan kewirausahaan melalui pelatihan, pendampingan usaha, dan peningkatan produktivitas pelaku UMKM. Langkah tersebut diharapkan membuat produk-produk unggulan daerah mampu menembus pasar nasional hingga internasional.
“UMKM harus terus naik kelas. Produk unggulan daerah tidak hanya dipasarkan secara lokal, tetapi juga harus mampu bersaing di pasar nasional bahkan internasional,” ujarnya.
Transformasi digital juga menjadi perhatian pemerintah dalam pengembangan sektor pariwisata dan budaya. Generasi muda dinilai memiliki peluang besar menjadi kreator konten, pemasar digital, maupun pelaku ekonomi kreatif yang mampu memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas, termasuk pasar global.
Pemanfaatan teknologi digital tidak hanya memperluas promosi destinasi wisata, tetapi juga membuka peluang kerja baru yang sebelumnya belum banyak berkembang. Profesi di bidang pemasaran digital, produksi konten kreatif, fotografi, videografi, hingga pengelolaan media sosial kini menjadi bagian dari ekosistem industri pariwisata modern.
Afriansyah juga menyoroti pentingnya penyelenggaraan festival budaya sebagai penggerak ekonomi daerah. Menurutnya, kegiatan budaya mampu menciptakan efek berganda karena melibatkan pelaku seni, perajin, pedagang, penyedia jasa transportasi, perhotelan, kuliner, hingga sektor ekonomi kreatif lainnya.
“Festival budaya bukan sekadar menghadirkan tontonan, tetapi juga membuka peluang usaha, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Afriansyah.
Dampak ekonomi dari sebuah festival tidak hanya dirasakan selama penyelenggaraan berlangsung. Kehadiran wisatawan turut meningkatkan permintaan terhadap produk lokal, jasa akomodasi, transportasi, hingga berbagai layanan pendukung lainnya. Kondisi tersebut memberi peluang bagi masyarakat untuk memperoleh tambahan pendapatan sekaligus memperkuat ekonomi berbasis komunitas.
Pendekatan ini juga sejalan dengan upaya membangun pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Ketika masyarakat lokal menjadi pelaku utama dalam pengelolaan pariwisata, manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati oleh investor atau pelaku usaha besar, tetapi juga menyebar kepada pelaku UMKM, seniman, dan tenaga kerja di daerah.
Penguatan kompetensi sumber daya manusia, pengembangan kewirausahaan, serta pemanfaatan teknologi digital menjadi fondasi penting agar sektor pariwisata dan budaya mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap penciptaan lapangan kerja. Dengan dukungan tersebut, potensi budaya Nusantara tidak hanya menjadi warisan yang dijaga, tetapi juga sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

