Jakarta– Ribuan tenda berdiri dan bendera kontingen dari berbagai daerah berkibar di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka (Buperta) Cibubur, Jakarta Timur. Jambore Nasional XII Tahun 2026 resmi dibuka bertepatan dengan peringatan Hari Pramuka ke-65, Jumat (14/8/2026), mempertemukan puluhan ribu warga perkemahan dalam salah satu agenda pendidikan kepramukaan terbesar di Indonesia.
Jambore Nasional XII berlangsung pada 13–20 Agustus 2026 dan diikuti 19.833 peserta dari 41 kontingen. Mereka berasal dari 35 Kwartir Daerah di seluruh Indonesia, gugus depan pada sejumlah Perwakilan RI di luar negeri, serta kontingen negara sahabat, sementara keseluruhan warga perkemahan bersama panitia dan pendamping mencapai hampir 25.000 orang.
Pembukaan Jamnas XII dilakukan Menteri Pemuda dan Olahraga RI Erick Thohir yang mewakili Presiden Prabowo Subianto. Upacara pembukaan berlangsung bersamaan dengan peringatan Hari Pramuka ke-65 di Buperta Cibubur, Jakarta Timur, Jumat sore.
Kehadiran ribuan Pramuka Penggalang dari berbagai latar belakang membuat Cibubur selama sepekan menjadi ruang perjumpaan generasi muda Nusantara. Selain kontingen dari seluruh provinsi, peserta juga datang dari gugus depan Perwakilan RI di Riyadh, Jeddah, Kinabalu, Kairo, dan Kuala Lumpur serta negara sahabat seperti Sri Lanka, Mauritius, Australia, Timor Leste, Malaysia, Taiwan, dan Brunei Darussalam.
Jamnas kali ini mengusung tema “Berkreasi, Berinovasi, Terampil dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan.” Tema tersebut menempatkan persoalan pangan sebagai salah satu materi pendidikan bagi Pramuka Penggalang, bukan sekadar slogan yang dipasang di arena perkemahan.
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Budi Waseso mengatakan swasembada pangan tidak hanya berkaitan dengan aktivitas menanam. Pendidikan, keterampilan, teknologi, kewirausahaan, pengelolaan sumber daya, serta kesiapan anak muda menghadapi persoalan di lingkungannya juga menjadi bagian penting dari upaya membangun kemandirian pangan.
“Melalui pendidikan kepramukaan, kami berupaya menumbuhkan budaya produktif, rasa cinta terhadap pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, dan kepedulian terhadap lingkungan,” kata Budi Waseso.
Bagi peserta usia Penggalang, pendekatan tersebut membuat jambore tidak berhenti pada kegiatan berkemah dan pertemuan antarkontingen. Program kegiatan diarahkan pada pembentukan watak, kemandirian, keterampilan hidup, penguasaan teknologi tepat guna, kepedulian terhadap lingkungan, serta penguatan rasa kebangsaan.
Kwarnas juga mendorong perubahan pola pendidikan kepramukaan dari learning by doing menuju learning, creating, and solving. Peserta tidak hanya belajar melalui praktik, tetapi juga didorong mencipta dan mencari penyelesaian atas persoalan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan itu menjadi penting ketika generasi muda berhadapan dengan perubahan teknologi digital, persoalan lingkungan, perubahan iklim, hingga masalah sosial. Dalam Jamnas XII, pengalaman di alam terbuka digunakan untuk melatih kerja sama, tanggung jawab, pengambilan keputusan, dan kemampuan hidup bersama dengan orang dari latar budaya berbeda.
Menpora Erick Thohir dalam pembukaan juga membawa pesan pemerintah mengenai posisi Pramuka dalam pembentukan karakter anak muda. Ia menyebut penguatan pendidikan kepramukaan membutuhkan kolaborasi pemerintah dan lembaga pendidikan agar Pramuka dapat berperan lebih besar dalam menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.
“Pramuka harus masuk struktur inti pendidikan nasional,” ujar Erick Thohir
Ketua Kwarnas Budi Waseso menambahkan pembentukan karakter melalui Pramuka tidak dapat dipisahkan dari pendidikan generasi muda. Kwarnas, menurut dia, membutuhkan kerja sama dengan Kemenpora, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam menyesuaikan pendidikan kepramukaan dengan kebutuhan generasi saat ini.
Di dalam arena Jamnas, pendidikan karakter tersebut diterjemahkan melalui kegiatan spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan fisik. Kegiatan dirancang edukatif sekaligus rekreatif dan menantang agar peserta memperoleh pengalaman yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas.
Tema swasembada pangan juga memberi ruang bagi peserta untuk memahami bahwa persoalan pangan berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Pengetahuan tentang pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, pengelolaan lingkungan, hingga pemanfaatan teknologi dapat menjadi keterampilan yang dibawa pulang ke gugus depan dan daerah masing-masing.
Di sinilah Jamnas memiliki dampak yang lebih luas daripada pertemuan seremonial. Hampir 20 ribu Penggalang yang datang dari berbagai penjuru Indonesia berpotensi menjadi penghubung pengetahuan ketika kembali ke sekolah, keluarga, dan komunitasnya.
Jamnas juga menyediakan ruang perjumpaan budaya yang sulit digantikan kegiatan daring. Anak-anak dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, hingga peserta dari luar negeri hidup dalam satu kawasan perkemahan, mengikuti kegiatan bersama, dan mengenal kebiasaan serta identitas daerah lain.
Perjumpaan tersebut memberi pengalaman langsung tentang Bhinneka Tunggal Ika. Kebangsaan tidak hanya disampaikan dalam materi atau upacara, tetapi dialami ketika peserta harus bekerja sama dengan teman yang berbeda bahasa daerah, tradisi, makanan, maupun kebiasaan.
Pembukaan Jamnas XII 2026 akhirnya menandai dimulainya sepekan pendidikan di luar kelas bagi ribuan anak muda. Dari tenda-tenda di Cibubur, para Penggalang tidak hanya ditantang hidup mandiri, tetapi juga belajar bahwa persoalan pangan, lingkungan, teknologi, budaya, dan kebangsaan dapat mulai dikenali melalui pengalaman sederhana dan kerja bersama.

