Jakarta – Dua gempa bumi berkekuatan besar yang mengguncang Venezuela dalam selang waktu kurang dari satu menit mengubah banyak kawasan menjadi lautan puing. Bangunan runtuh, ribuan warga kehilangan tempat tinggal, sementara tim penyelamat masih berpacu mencari korban yang diduga tertimbun reruntuhan di berbagai wilayah.
Gempa pertama bermagnitudo 7,2 disusul gempa kedua bermagnitudo 7,5 mengguncang wilayah sekitar 160 kilometer di barat Caracas pada Rabu (24/6) waktu setempat atau Kamis (25/6) WIB. Guncangan yang disebut United States Geological Survey (USGS) sebagai doublet earthquake menjadi yang terkuat di Venezuela dalam lebih dari satu abad. Pemerintah menetapkan status darurat nasional, sementara operasi pencarian dan penyelamatan terus berlangsung.
Korban terus bertambah seiring proses evakuasi. Pada pembaruan terbaru, sedikitnya 235 orang dilaporkan meninggal dunia, ribuan lainnya terluka, dan puluhan ribu warga masih belum diketahui keberadaannya menurut berbagai laporan lapangan. Sebelumnya pemerintah sementara Venezuela melaporkan 164 korban meninggal dan 971 orang terluka, namun angka tersebut meningkat setelah tim penyelamat menjangkau wilayah yang sebelumnya terisolasi.
Wilayah pesisir La Guaira menjadi daerah yang mengalami kerusakan paling parah. Lebih dari 250 bangunan dilaporkan rusak atau hancur, termasuk rumah sakit, kantor Palang Merah Venezuela, permukiman warga, hingga fasilitas publik. Bandara Internasional Simón Bolívar juga ditutup setelah mengalami kerusakan struktural sehingga memperlambat distribusi bantuan kemanusiaan.
USGS memperkirakan dampak gempa masih berpotensi jauh lebih besar. Berdasarkan pemodelan awal, terdapat kemungkinan korban jiwa mencapai puluhan ribu apabila seluruh daerah terdampak berhasil didata. Risiko tersebut dipengaruhi besarnya magnitudo gempa, kepadatan penduduk di sekitar episentrum, serta banyaknya bangunan yang tidak dirancang tahan gempa.
Pemerintah sementara Venezuela yang dipimpin Delcy Rodríguez segera menetapkan keadaan darurat nasional untuk mempercepat mobilisasi personel penyelamat, alat berat, serta bantuan logistik. Pemerintah juga meminta masyarakat menjauhi bangunan yang mengalami keretakan karena puluhan gempa susulan masih terus tercatat.
Respons internasional datang dalam waktu singkat. Amerika Serikat mengaktifkan tim bantuan bencana, mengirim personel pencarian dan penyelamatan, bantuan medis, serta logistik darurat setelah berkomunikasi dengan pemerintah Venezuela. Spanyol, Prancis, China, Rusia, dan sejumlah negara lain juga menyatakan kesiapan mengirim bantuan kemanusiaan.
“Kami sedang berkomunikasi dengan pihak berwenang dan mengerahkan bantuan,” tulis Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Christopher Landau melalui platform X, Washington, AS (25/6/26).
Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan turut menyampaikan belasungkawa kepada pemerintah dan rakyat Venezuela.
“Saya dengan tulus turut berduka cita atas kehilangan yang dialami oleh mereka yang meninggal dunia dalam dua gempa bumi yang melanda Venezuela, dan menyampaikan belasungkawa serta harapan untuk pemulihan yang cepat bagi rakyat dan pemerintah Venezuela yang bersahabat,” kata Erdogan, dikutip dari CNN.
Sejumlah organisasi kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mulai mengoordinasikan pengiriman tim penyelamat dan bantuan darurat mengingat jutaan warga Venezuela telah menghadapi krisis ekonomi sebelum bencana ini terjadi.
Bencana ini memperburuk kondisi sosial Venezuela yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan ekonomi, kerusakan infrastruktur, dan ketidakstabilan politik. Infrastruktur yang telah rapuh membuat proses evakuasi berlangsung lebih lambat, sementara ribuan keluarga kehilangan rumah, pekerjaan, dan akses terhadap layanan dasar.
Selain menjadi tragedi kemanusiaan, gempa kembar ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan bencana di negara-negara yang berada di kawasan aktif secara tektonik. Mitigasi, kualitas bangunan tahan gempa, serta sistem respons darurat menjadi faktor yang menentukan besarnya dampak ketika bencana besar terjadi.

