Jakarta – Upaya memperluas sertifikasi halal bagi pelaku usaha mikro dan kecil mulai menunjukkan dampaknya. Indonesia berhasil melompat ke posisi kedua kategori Muslim-Friendly Destination of The Year pada ajang Global Muslim Travel Index (GMTI) Awards 2026, naik dari peringkat kelima pada tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut mendapat sambutan dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Lembaga itu menilai capaian tersebut menjadi tanda semakin kuatnya ekosistem halal nasional yang dibangun melalui kerja sama berbagai pihak, termasuk percepatan sertifikasi halal bagi pelaku usaha melalui Program Sertifikasi Halal Gratis (SEHATI).
Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan mengatakan, pengakuan internasional itu tidak hanya berkaitan dengan keindahan destinasi wisata, tetapi juga kepastian layanan dan ketersediaan produk halal yang dipercaya wisatawan Muslim.
“Capaian ini menunjukkan bahwa Indonesia semakin diakui dunia sebagai destinasi yang mampu menghadirkan kenyamanan dan kepastian layanan bagi wisatawan Muslim. Salah satu faktor penting dalam penguatan ekosistem tersebut adalah tersedianya produk dan layanan halal yang terpercaya melalui implementasi Jaminan Produk Halal,” ujar Ahmad Haikal Hasan dalam keterangannya di Jakarta, Senin (22/6/26).
Bagi wisatawan Muslim, ketersediaan makanan dan minuman halal menjadi salah satu pertimbangan utama ketika memilih tujuan perjalanan. Karena itu, BPJPH terus memperluas akses sertifikasi halal, terutama bagi Usaha Mikro dan Kecil (UMK), melalui Program SEHATI.
Program tersebut memberikan fasilitas sertifikasi halal secara gratis mulai dari pengajuan hingga penerbitan sertifikat melalui skema pernyataan pelaku usaha atau self declare. Dalam prosesnya, pelaku usaha didampingi Pendamping Proses Produk Halal (PPH) agar standar yang ditetapkan dapat dipenuhi.
Dalam dua tahun terakhir, BPJPH bersama Kementerian Pariwisata secara khusus mempercepat sertifikasi halal bagi pelaku UMK di kawasan dan desa wisata. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus memperkuat daya saing destinasi wisata Indonesia di pasar wisata halal internasional.
Data BPJPH menunjukkan hingga pertengahan 2026 telah terbit 31.617 sertifikat halal bagi pelaku UMK yang tersebar di 1.372 desa wisata pada 37 provinsi. Produk yang mendapatkan sertifikasi mencakup makanan, minuman, pusat oleh-oleh, jasa katering, serta berbagai usaha pendukung sektor pariwisata.
Keberadaan produk-produk tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman wisatawan ketika berkunjung ke suatu daerah. Kehadiran layanan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan Muslim diyakini dapat memperpanjang lama tinggal wisatawan sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat setempat.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana sebelumnya juga memberikan apresiasi kepada Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan saat penyerahan sertifikat halal secara simbolis kepada pelaku UMK di Desa Wisata Jatimulyo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 31 Mei 2026.
Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan dinilai menjadi salah satu faktor yang mengangkat posisi Indonesia dalam persaingan wisata halal global. Kolaborasi lintas sektor tersebut tidak hanya mendorong peningkatan jumlah produk bersertifikat halal, tetapi juga membangun kepercayaan wisatawan terhadap kualitas layanan yang tersedia.
“Capaian ini harus menjadi motivasi untuk terus memperkuat ekosistem halal Indonesia. Melalui sertifikasi halal, pembinaan UMK, dan kolaborasi lintas sektor, kami optimistis Indonesia dapat menjadi destinasi wisata ramah Muslim terbaik dunia sekaligus pusat ekosistem halal global yang berdaya saing dan berkelanjutan,” kata Ahmad Haikal.
Naiknya posisi Indonesia dalam GMTI Awards 2026 memperlihatkan bahwa penguatan sektor halal tidak hanya berkaitan dengan aspek keagamaan, tetapi juga menjadi instrumen pengembangan ekonomi. Bagi masyarakat di daerah tujuan wisata, sertifikasi halal membuka peluang pasar yang lebih luas dan meningkatkan kepercayaan konsumen.
Di tengah persaingan industri pariwisata global, pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa pengembangan wisata tidak hanya bertumpu pada destinasi dan atraksi, tetapi juga pada kualitas layanan dan jaminan produk yang menyertainya. Langkah tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mengejar posisi sebagai destinasi wisata ramah Muslim terbaik di dunia.

