Jakarta – Arab Saudi melangkah lebih jauh dalam modernisasi layanan haji dengan menghadirkan sistem izin masuk elektronik ke Kota Suci Mekkah. Kebijakan ini menjadi simbol perubahan dari sistem konvensional menuju tata kelola berbasis teknologi yang lebih efisien dan transparan.
Direktorat Jenderal Paspor Arab Saudi pada Senin (13/04/2026) resmi meluncurkan sistem perizinan elektronik bagi para pekerja residen yang hendak memasuki Mekkah selama musim haji 1447 Hijriah. Inovasi ini memungkinkan proses pengajuan izin dilakukan secara daring melalui platform Absher dan Muqeem tanpa perlu datang langsung ke kantor layanan. Langkah tersebut diambil untuk menjawab kebutuhan mobilitas tinggi jutaan orang yang terlibat dalam operasional haji setiap tahunnya.
“Kami menghadirkan layanan ini untuk mempermudah akses dan mempercepat proses perizinan, sekaligus meningkatkan akurasi data serta pengawasan,” demikian pernyataan resmi otoritas paspor Arab Saudi.
Melalui sistem ini, Absher Individuals akan digunakan oleh warga negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), pemegang izin tinggal premium, investor, serta anggota keluarga non-Saudi. Sementara itu, portal Muqeem difokuskan untuk melayani pekerja perusahaan yang beroperasi di Mekkah selama musim haji berlangsung.
Transformasi digital ini diyakini mampu mengurangi antrean panjang serta meminimalkan potensi pelanggaran izin masuk yang kerap terjadi pada sistem manual. Selain itu, integrasi data secara real-time memungkinkan pemerintah mengontrol arus masuk dengan lebih presisi, terutama di tengah lonjakan jumlah jamaah yang datang dari berbagai negara.
Kebijakan tersebut juga menjadi bagian dari strategi besar Arab Saudi dalam membangun ekosistem layanan haji berbasis teknologi. Seiring meningkatnya jumlah jamaah setiap tahun, kebutuhan akan sistem yang cepat, aman, dan terintegrasi menjadi semakin mendesak.
Di sisi lain, digitalisasi ini membawa dampak positif bagi efisiensi operasional. Para pekerja tidak lagi dibebani proses administrasi yang rumit, sementara otoritas dapat mengalokasikan sumber daya secara lebih optimal. Hal ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada jamaah secara menyeluruh.
Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam memastikan seluruh pengguna dapat mengakses teknologi dengan baik. Sosialisasi dan pendampingan dinilai penting agar sistem ini dapat berjalan maksimal tanpa menghambat pihak tertentu yang belum terbiasa dengan layanan digital.
Dengan penerapan izin elektronik ini, Arab Saudi menegaskan komitmennya dalam menghadirkan penyelenggaraan haji yang modern, tertib, dan berkelanjutan. Sistem ini diharapkan menjadi fondasi baru dalam pengelolaan ibadah haji di masa depan.

