Hidup adalah ruang tempaan, begitu kira-kira jejak perjalanan yang tergambar dari sosok Yuliyani Handraeni Utami. Perempuan muda asal Kota Cirebon ini tumbuh melalui proses panjang yang tidak selalu ringan. Dari setiap tantangan yang datang, ia justru membangun karakter yang semakin kukuh, tekun, dan terbuka untuk terus menimba ilmu di berbagai kesempatan.
Yuliyani lahir di Cirebon pada 30 Juli 2003 dan kini menempuh pendidikan di Program Studi Manajemen Universitas Terbuka sebagai mahasiswa angkatan 2023.2, sekaligus santri pondok Pesantren Pramuka Khalifa. Arah studinya hari ini bertaut erat dengan fondasi yang ia bangun sejak masa sekolah. Sebelumnya, ia menempuh pendidikan di SMK Assa’idiyyah Pondok Pesantren Gedongan, Cirebon, pada jurusan Administrasi Perkantoran. Dari lingkungan pendidikan itu, Yuliyani tidak hanya belajar soal tata kelola administrasi, tetapi juga membiasakan diri dengan disiplin, ketelitian, dan kecakapan mengatur sistem kerja secara terstruktur.
Capaian penting terbaru juga berhasil diraih Yuliyani bersama timnya. Ia dinyatakan lolos dalam Program Pendanaan Penelitian Mahasiswa Universitas Terbuka Tahun 2026 bersama dua rekannya, yakni Sriyanti Nurfadhillah dan Intan Tarbiatul W. Dalam program tersebut, mereka mengangkat judul penelitian “Pengaruh Halal Lifestyle Awareness terhadap Preferensi Kuliner Mahasiswa Generasi Z di Era Globalisasi Kuliner.” Keberhasilan ini menjadi bukti nyata kapasitas akademik dan kemampuan riset yang dimiliki, sekaligus memperkuat posisinya sebagai mahasiswa yang aktif berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan berbasis isu kekinian.
Perjalanan belajarnya juga tidak berhenti pada kegiatan akademik semata. Di lingkungan pesantren, Yuliyani dikenal aktif mengambil peran dalam sejumlah kegiatan organisasi dan pengabdian. Salah satu amanah yang pernah ia jalankan adalah menjadi bendahara sekaligus menangani bidang perizinan. Tugas tersebut menuntut tanggung jawab besar, mulai dari pengelolaan keuangan yang rapi, ketelitian dalam pencatatan, hingga kemampuan menjalin komunikasi yang baik dengan berbagai pihak. Pengalaman itu menjadi ruang latihan penting yang membentuk integritas dan kedewasaannya dalam bekerja.
“Saya percaya setiap amanah adalah proses belajar yang membentuk diri menjadi lebih baik,” ujar Yuliyani saat menceritakan pengalamannya dalam mengemban tanggung jawab organisasi.
Pernyataan itu mencerminkan cara pandangnya terhadap setiap tugas yang dijalani. Bagi Yuliyani, amanah bukan sekadar beban pekerjaan, melainkan media pembelajaran untuk memperkuat kemampuan diri. Sikap tersebut terlihat dari konsistensinya dalam menjalankan peran-peran yang dipercayakan kepadanya, baik di lingkungan pendidikan maupun dalam aktivitas sosial yang lebih luas.
Selain memiliki kemampuan administratif, Yuliyani juga menunjukkan sisi kreatif yang berkembang seiring waktu. Ia pernah terlibat dalam pembuatan desain konten media sosial untuk kebutuhan pesantren. Keterlibatan itu memperlihatkan bahwa dirinya mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman, terutama dalam penggunaan media digital sebagai sarana komunikasi dan penyebaran informasi. Keahlian ini menjadi nilai tambah yang memperluas kapasitasnya, dari semula berfokus pada administrasi menjadi juga akrab dengan pengolahan pesan visual dan kreativitas konten.
Pengalaman lainnya hadir saat ia terlibat dalam kepanitiaan kegiatan P3RI di Masjid Salman ITB Bandung. Dari kegiatan tersebut, Yuliyani memperoleh pelajaran berharga tentang kerja sama tim, koordinasi lapangan, serta pentingnya kepemimpinan dalam menyukseskan agenda berskala besar. Aktivitas itu memperkaya wawasannya dalam manajemen kegiatan dan memperluas pemahaman praktisnya mengenai pengorganisasian sebuah program.
Meski tidak seluruh jejak pengabdiannya tercatat secara formal, pengalaman-pengalaman tersebut tetap memiliki arti besar dalam pembentukan dirinya. Dari proses itu, Yuliyani mengasah kemampuan di banyak bidang, mulai dari administrasi, pelayanan, komunikasi, hingga pengelolaan kegiatan sosial dan pendidikan. Setiap pengalaman menjadi bekal yang memperkuat kesiapannya menghadapi dunia yang menuntut ketangguhan sekaligus keluwesan.
Di luar kesibukan akademik dan organisasi, Yuliyani juga menaruh perhatian pada pengembangan diri dan dunia desain kreatif. Ia meyakini kreativitas menjadi salah satu bekal penting untuk menjawab tantangan masa kini. Untuk menjaga keseimbangan aktivitas, ia juga rutin berolahraga bulu tangkis, sebuah kebiasaan yang membantunya menjaga stamina, fokus, dan semangat dalam menjalani hari.
Kisah Yuliyani Handraeni Utami menghadirkan gambaran tentang generasi muda yang bertumbuh bukan hanya lewat pencapaian formal, tetapi juga lewat kesediaan menjalani proses dengan sabar dan sungguh-sungguh. Ketekunan, pengalaman organisasi, serta semangat belajarnya menunjukkan bahwa masa depan dibangun dari langkah-langkah kecil yang dijalani dengan penuh kesadaran. Pada titik itu, Yuliyani menjadi potret mahasiswi muda dari Cirebon yang tidak berhenti berkembang, dan terus menyiapkan diri untuk memberi kontribusi nyata di tengah masyarakat.

