Padang – Dari bahasa hingga kuliner, warisan masyarakat Sumatera Barat kembali mendapat pengakuan nasional. Sebanyak 15 karya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2026.
Karya tersebut mencakup seni pertunjukan, ritus, tradisi lisan, bahasa, dan kuliner. Dengan tambahan terbaru, Sumatera Barat memiliki 164 karya budaya yang memperoleh status WBTb Indonesia sejak 2013.
Di antara karya yang ditetapkan terdapat Bahasa Pondok, Urak Balabek, Marinai, Tari Piriang Balenggek Lunto, Tradisi Tunduak, Tari Payung, Tuddukat, Sirompak Taeh, hingga Kalamai.
“Penetapan ini adalah kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat Syaiful Bahri di Padang (8/7/26).
Status warisan budaya memiliki arti penting karena memberi pengakuan terhadap praktik yang hidup di tengah masyarakat. Namun, pencatatan tidak otomatis menjamin sebuah tradisi terus diwariskan.
Keberlanjutan sangat bergantung pada komunitas pemilik budaya. Penutur bahasa, maestro seni, pelaku ritus, pembuat makanan, serta keluarga yang meneruskan pengetahuan menjadi penjaga utama setelah proses penetapan selesai.
Dokumentasi juga dibutuhkan. Beberapa tradisi bergantung pada pengetahuan lisan, sehingga hilangnya seorang maestro dapat berarti hilangnya bagian penting dari teknik atau cerita yang tidak pernah ditulis.
Sekolah dan perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui penelitian, kegiatan ekstrakurikuler, dokumentasi, dan pertemuan langsung dengan pelaku budaya. Pembelajaran semacam itu membuat warisan tidak hanya dikenal sebagai nama dalam daftar.
Pengakuan WBTb juga dapat membuka peluang ekonomi bagi komunitas, terutama bila dikembangkan tanpa menghilangkan makna budaya. Produk kuliner, pertunjukan, atau kegiatan wisata dapat memberikan pendapatan kepada masyarakat apabila pengelolaannya tetap melibatkan pemilik tradisi.
Sumatera Barat masih menyiapkan puluhan usulan lain pada 2026. Proses tersebut membutuhkan dokumentasi, kajian akademis, video pendukung, serta keterlibatan maestro dan pemerintah daerah.
Pengakuan terhadap 15 karya akhirnya bukan akhir perjalanan. Pekerjaan yang lebih sulit justru dimulai setelah penetapan: memastikan anak muda mengenal, mempelajari, dan memiliki alasan untuk meneruskan budaya tersebut.

