Bijak memahami ajaran Islam merupakan bagian dari menjaga kemurnian akidah. Di era media sosial, beragam informasi keagamaan mudah beredar. Sayangnya, tidak sedikit yang disampaikan secara mutlak tanpa disertai dalil yang sahih. Salah satu klaim yang kerap muncul ialah anggapan bahwa boneka dapat membuat malaikat rahmat menjauh dan menjadi tempat bersembunyinya jin. Benarkah demikian menurut ajaran Islam?
Fenomena tersebut sering dibagikan dalam bentuk video pendek, pesan berantai, maupun unggahan media sosial. Sebagian masyarakat kemudian mempercayainya tanpa melakukan tabayun. Padahal, Islam mengajarkan agar setiap informasi agama dikembalikan kepada Al-Qur’an, sunnah yang sahih, serta penjelasan para ulama. Terlebih lagi jika berkaitan dengan perkara gaib. Menetapkan sesuatu sebagai bagian dari ajaran Islam memerlukan dalil yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Malaikat tidak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat anjing atau gambar (makhluk bernyawa).”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi salah satu dasar pembahasan para ulama mengenai hukum gambar makhluk bernyawa. Namun, pemahamannya tidak dapat dipisahkan dari dalil-dalil lain yang berkaitan dengan masalah tersebut. Para ulama menjelaskan bahwa nash harus dipahami secara utuh agar tidak melahirkan kesimpulan yang keliru.
Di sisi lain, terdapat hadits sahih dari Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan kebiasaannya bermain dengan boneka di hadapan Rasulullah ﷺ.
“Aku biasa bermain dengan boneka-boneka di sisi Rasulullah ﷺ.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi landasan bagi mayoritas ulama bahwa boneka yang digunakan sebagai permainan anak-anak merupakan pengecualian dari larangan gambar makhluk bernyawa. Boneka dipandang sebagai sarana pendidikan, permainan, dan hiburan yang wajar bagi anak. Karena itu, keberadaan boneka mainan anak tidak dapat disamakan begitu saja dengan gambar atau patung yang dibahas dalam hadits larangan.
Lalu bagaimana dengan anggapan bahwa malaikat rahmat menjauh dari anak karena boneka? Atau keyakinan bahwa jin sangat menyukai boneka dan menjadikannya sebagai tempat tinggal? Sampai saat ini, tidak ditemukan dalil dari Al-Qur’an maupun hadits sahih yang secara khusus menyatakan hal tersebut. Menetapkan perkara gaib tanpa dasar merupakan sesuatu yang tidak dibenarkan dalam Islam.
Al-Qur’an memang menegaskan bahwa setan adalah musuh manusia. Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuhmu.”
(QS. Fathir: 6)
Ayat ini mengingatkan agar setiap Muslim waspada terhadap tipu daya setan. Namun, ayat tersebut tidak menyebutkan bahwa jin atau setan secara khusus menyukai atau bersembunyi di dalam boneka. Oleh sebab itu, tidak tepat menjadikan klaim tersebut sebagai ajaran agama yang pasti.
Dalam masalah akidah, para ulama menetapkan kaidah penting bahwa perkara gaib hanya dapat diyakini berdasarkan dalil yang sahih. Sesuatu yang tidak dijelaskan oleh Al-Qur’an maupun sunnah tidak boleh dipastikan sebagai bagian dari keyakinan Islam. Sikap ini merupakan bentuk kehati-hatian agar agama tetap terjaga dari berbagai tambahan yang tidak memiliki dasar.
Sebagai bentuk perlindungan kepada anak, Rasulullah ﷺ justru mengajarkan doa dan dzikir. Salah satunya adalah doa yang dibacakan kepada Hasan dan Husain:
“Aku memohon perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan, binatang yang berbahaya, dan dari setiap mata yang jahat.”
(HR. Al-Bukhari)
Doa tersebut menunjukkan bahwa perlindungan terbaik berasal dari Allah melalui dzikir, doa, serta keteguhan dalam menjalankan syariat. Orang tua juga dianjurkan membiasakan anak membaca Al-Qur’an, menjaga shalat, dan memperbanyak dzikir sebagai benteng dari berbagai gangguan yang nyata maupun yang gaib.
Karena itu, umat Islam hendaknya berhati-hati ketika menerima informasi keagamaan yang berkaitan dengan alam gaib. Jangan mudah memastikan sesuatu hanya karena sering diulang atau disampaikan oleh banyak orang. Selama tidak ada dalil yang sahih, klaim tersebut tidak boleh dinisbatkan sebagai ajaran Islam. Sikap ilmiah dan berpegang teguh kepada Al-Qur’an serta sunnah merupakan jalan terbaik dalam menjaga kemurnian akidah dan ketenangan hati.

