Jakarta – Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati, Indonesia dan Inggris memperkuat kemitraan dalam pengelolaan kawasan konservasi. Pertemuan bilateral yang berlangsung dalam rangkaian London Climate Action Week menjadi penanda bahwa upaya menjaga bentang alam tidak lagi dapat dilakukan secara terpisah, melainkan membutuhkan dukungan lintas negara dan skema pendanaan yang berkelanjutan.
Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni bertemu dengan Perwakilan Khusus Inggris Bidang Alam, Ruth Davis, di Kew Gardens Orangery, London, Inggris, Selasa (23/6/26). Pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama konservasi alam, perlindungan keanekaragaman hayati, serta pengembangan pembiayaan berkelanjutan bagi kawasan lindung di Indonesia. Salah satu fokus utama pembahasan adalah implementasi Satuan Tugas Konservasi Bentang Alam dan Spesies Ikonik yang dibentuk melalui Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2026.
Satgas tersebut memiliki mandat strategis untuk memperkuat konservasi alam, memobilisasi sumber pembiayaan inovatif, mendukung target Forest and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030, serta membangun model pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan. Pemerintah berharap satgas ini dapat menjembatani kebutuhan konservasi dengan dukungan investasi yang tetap menjaga kepentingan lingkungan dan masyarakat.
Indonesia saat ini memiliki 57 taman nasional dengan luas hampir 18 juta hektare. Kawasan tersebut menjadi habitat berbagai spesies langka dunia sekaligus benteng penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, penyediaan air bersih, penyerapan karbon, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat sekitar hutan.
“Indonesia telah memiliki landasan hukum yang kuat serta dukungan politik pada tingkat tertinggi untuk memperkuat konservasi alam. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan mandat tersebut menjadi reformasi kebijakan, proyek percontohan yang dapat direplikasi, dan hasil konservasi yang terukur bagi masyarakat maupun lingkungan,” ujar Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.
Pemerintah Inggris sebelumnya telah mengumumkan dukungan awal sebesar 2 juta poundsterling untuk mendukung agenda konservasi Indonesia. Dukungan tersebut menjadi bagian dari komitmen internasional dalam menjaga kawasan bernilai ekologis tinggi yang memiliki kontribusi penting terhadap pengurangan emisi global.
Dalam pertemuan tersebut, kedua negara juga membahas pengembangan Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI). Program ini dirancang sebagai model konservasi bentang alam yang menggabungkan perlindungan satwa kunci, penguatan ekonomi masyarakat lokal, dan mobilisasi investasi jangka panjang.
Model seperti PECI dinilai penting karena konservasi modern tidak hanya berfokus pada perlindungan spesies, tetapi juga harus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan konservasi. Pendekatan tersebut diyakini dapat mengurangi konflik manusia dan satwa sekaligus menciptakan insentif bagi masyarakat untuk menjaga lingkungan.
“Pemerintah Indonesia tengah mengembangkan pendekatan pembiayaan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kawasan, termasuk melalui skema blended finance, filantropi, dan pembiayaan publik, guna menutup kesenjangan pendanaan konservasi yang masih cukup besar,” kata Raja Juli.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa pengembangan pembiayaan inovatif bukan berarti membuka jalan bagi privatisasi taman nasional. Seluruh skema yang dirancang tetap mengedepankan transparansi, akuntabilitas, integritas ekologis, dan distribusi manfaat yang adil bagi masyarakat sekitar kawasan hutan.
Isu pendanaan memang menjadi tantangan besar dalam pengelolaan kawasan konservasi. Luasnya wilayah yang harus dijaga sering kali tidak sebanding dengan kemampuan pembiayaan pemerintah. Karena itu, berbagai negara mulai mengembangkan skema pendanaan campuran yang melibatkan pemerintah, lembaga filantropi, dunia usaha, dan organisasi internasional tanpa mengurangi fungsi perlindungan kawasan.
“Indonesia dan Inggris sepakat untuk terus memperkuat dialog serta menjajaki berbagai peluang kerja sama konkret guna mendukung pengelolaan kawasan lindung yang efektif, inklusif, dan berkelanjutan,” ujar Raja Juli.
Kerja sama ini menjadi penting karena Indonesia termasuk negara dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Keberhasilan menjaga kawasan lindung tidak hanya berdampak bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga berkontribusi terhadap upaya global menghadapi perubahan iklim dan kepunahan spesies.
Bagi masyarakat sekitar kawasan konservasi, keberhasilan program tersebut dapat membuka peluang ekonomi baru melalui ekowisata, jasa lingkungan, hingga program pemberdayaan berbasis konservasi. Di sisi lain, keberlanjutan hutan dan taman nasional juga berperan menjaga sumber air, mengurangi risiko bencana ekologis, serta menopang ketahanan lingkungan jangka panjang.
Penguatan kerja sama Indonesia dan Inggris menunjukkan bahwa perlindungan alam kini tidak lagi dipandang sebagai beban pembangunan, melainkan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan kehidupan. Tantangan terbesar ke depan adalah memastikan dukungan internasional, kebijakan nasional, dan partisipasi masyarakat berjalan seiring sehingga manfaat konservasi dapat dirasakan secara nyata oleh lingkungan maupun generasi mendatang.

