Jakarta – Upaya mengumpulkan layanan belajar digital dalam satu ekosistem memperoleh pengakuan internasional. Rumah Pendidikan meraih posisi pemenang WSIS Prizes 2026 kategori e-Government dalam ajang yang diselenggarakan International Telecommunication Union.
Menurut Kemendikdasmen, penghargaan tersebut menjadi kemenangan pertama Indonesia pada kategori itu setelah penantian 14 tahun. Platform Rumah Pendidikan disebut telah digunakan lebih dari 6,9 juta pengguna dan menyediakan 4.843 sumber belajar gratis.
Platform tersebut diarahkan untuk memperluas akses materi bagi murid dan guru.Kehadirannya juga berjalan bersama program perangkat pembelajaran digital di sekolah.
“Rumah Pendidikan … telah digunakan oleh lebih dari 6,9 juta pengguna,” kata Presiden Prabowo Subianto ketika menyinggung perkembangan digitalisasi pendidikan dalam keterangannya di Jakarta (21/7/26).
Penghargaan internasional memberikan pengakuan terhadap rancangan layanan, tetapi tantangan terbesarnya tetap berada pada penggunaan sehari-hari. Platform pendidikan hanya bermanfaat ketika materi mudah ditemukan, relevan dengan pembelajaran, dan dapat diakses oleh guru maupun murid.
Akses internet masih menjadi faktor penting. Daerah dengan koneksi terbatas memerlukan strategi agar digitalisasi tidak justru memperlebar perbedaan kesempatan belajar antara sekolah.
Guru juga menentukan kualitas pemanfaatan teknologi. Sumber belajar digital dapat memperkaya kelas, tetapi tetap membutuhkan pendidik yang mampu memilih materi, menyesuaikannya dengan kebutuhan anak, dan membangun aktivitas belajar.
Bagi murid, satu portal terintegrasi dapat mengurangi kebutuhan mencari materi dari sumber yang tidak jelas. Namun, kemampuan menilai kualitas informasi tetap perlu diajarkan sebagai bagian dari literasi digital.
Rumah Pendidikan juga membuka peluang pemerataan sumber. Materi yang dikembangkan di tingkat nasional dapat diakses sekolah yang mungkin mempunyai keterbatasan buku atau sumber tambahan, selama infrastruktur memungkinkan.
Pengakuan WSIS pada akhirnya menjadi titik ukur, bukan garis akhir. Pertanyaan berikutnya adalah apakah jutaan pengguna tersebut benar-benar mendapatkan pengalaman belajar yang lebih baik dan apakah guru di daerah dengan keterbatasan turut merasakan manfaatnya.
Digitalisasi pendidikan tidak hanya berbicara tentang jumlah pengguna dan perangkat. Nilainya muncul ketika teknologi membantu anak memahami pelajaran, memberi guru lebih banyak pilihan mengajar, serta mempersempit kesenjangan sumber belajar antardaerah.

