Jakarta – Papan tulis di sekolah Indonesia perlahan mendapatkan pendamping baru berupa layar interaktif. Pemerintah menargetkan penambahan perangkat digital dalam skala besar sebagai bagian dari program transformasi pembelajaran.
Dalam keterangan Kemendikdasmen mengenai Rumah Pendidikan, pemerintah menyebut sekolah sebelumnya menerima satu unit Interactive Flat Panel. Penambahan perangkat direncanakan berlanjut, dengan target sekitar 700 ribu panel tambahan hingga akhir 2026 atau semester pertama 2027.
Perangkat tersebut dihubungkan dengan pengembangan sumber pembelajaran digital, termasuk Rumah Pendidikan. Tujuannya bukan sekadar mengganti papan konvensional, tetapi memperluas pilihan materi visual dan interaktif di ruang kelas.
“Tahun ini kita akan tambah tiga plus per sekolah,” kata Presiden Prabowo Subianto ketika menjelaskan rencana distribusi panel pembelajaran digital di Jakarta (21/7/26).
Jumlah perangkat yang besar membawa kebutuhan pendukung yang sama besarnya. Sekolah memerlukan listrik stabil, jaringan, perawatan, pengamanan, dan kemampuan teknis untuk memastikan panel tidak berhenti menjadi inventaris.
Guru menjadi faktor terpenting. Teknologi dapat menampilkan video, simulasi, peta, maupun materi interaktif, tetapi kualitas pembelajaran tetap bergantung pada bagaimana perangkat tersebut digunakan untuk membantu anak memahami konsep.
Pelatihan tidak cukup hanya mengajarkan cara menyalakan perangkat. Guru perlu memperoleh contoh pembelajaran, dukungan ketika menghadapi kendala teknis, serta kesempatan berbagi praktik dengan pendidik lain.
Perbedaan kondisi sekolah juga perlu diperhatikan. Sebuah panel digital di sekolah perkotaan dengan internet cepat menghadapi situasi yang berbeda dengan sekolah di wilayah yang listrik atau konektivitasnya belum stabil.
Karena itu, keberhasilan program sebaiknya dilihat dari tingkat pemanfaatan dan perubahan pengalaman belajar, bukan semata jumlah perangkat yang telah dikirim. Data penggunaan dapat membantu pemerintah mengetahui sekolah yang memerlukan dukungan tambahan.
Bagi murid, teknologi dapat memperluas cara memahami materi. Konsep yang sulit digambarkan melalui teks dapat divisualisasikan, sementara materi dari berbagai daerah dapat dipertemukan dalam satu ruang belajar.
Distribusi panel digital akhirnya adalah investasi pada ekosistem, bukan hanya perangkat keras. Ketika infrastruktur, kompetensi guru, sumber belajar, dan perawatan berjalan bersama, layar di depan kelas dapat benar-benar berubah menjadi alat belajar.

