Bandung – Ancaman itu datang di ruang sempit sebuah mobil. Pintu tertutup. Suasana menegang. Di hadapannya, senjata api diperlihatkan sebagai pesan agar sebuah pemberitaan dihentikan. Namun bagi Susanto, wartawan yang telah hampir 12 tahun menggeluti dunia jurnalistik, tekanan semacam itu justru menjadi pengingat tentang arti sebuah profesi.
Pertemuan dengan Susanto berlangsung di sela kegiatan kelas Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat di GOR Wartawan, Buah Batu, Kota Bandung, Selasa (24/6/2026). Di tengah suasana diskusi dan pembekalan wartawan, pria kelahiran Lampung, 10 Juli 1977 itu membuka lembaran panjang perjalanan jurnalistiknya.
Dunia pers tidak datang begitu saja dalam hidupnya. Jalan itu bermula dari sosok yang paling dekat dengannya, yakni sang kakak.
Sekitar tahun 1999, ketika Indonesia masih merasakan euforia reformasi, kakaknya lebih dahulu terjun ke dunia media. Dari sana, Susanto mulai mengenal kehidupan wartawan. Ia beberapa kali ikut melihat proses peliputan dan kerja redaksi dari dekat.
“Karena kakak saya lebih dulu jadi wartawan dan memiliki media. Saya sering ikut melihat bagaimana mereka bekerja. Menurut saya itu menarik,” ujar jurnalis Beritasatoe.com ini.
Rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi panggilan profesi. Ia mulai memahami bahwa wartawan bukan sekadar pencatat peristiwa. Wartawan adalah mata yang mengamati perubahan dan telinga yang menangkap suara masyarakat.
Perjalanan panjang itu membawanya menjadi wartawan lapangan, lalu dipercaya sebagai redaktur media online Beritasatoe.com. Di balik layar redaksi, ia tidak hanya menulis berita, tetapi juga ikut menjaga arah pemberitaan agar tetap berada dalam koridor jurnalistik.
Dari sekian banyak peristiwa yang pernah diliput, pandemi Covid-19 menjadi salah satu pengalaman yang paling membekas.
Saat virus corona hijrah menyebar ke Indonesia, Kabupaten Bogor menjadi salah satu wilayah yang ikut menjadi perhatian publik. Kebetulan, indikasi kasus Covid-19 pertama di wilayah Kabupaten Bogor muncul tidak jauh dari tempat tinggalnya di Nanggewer, Kecamatan Cibinong.
Kedekatan lokasi itu membuat Susanto dapat bergerak cepat. Ia berupaya mencari informasi dari berbagai pihak, termasuk rumah sakit dan otoritas kesehatan yang menangani kasus tersebut.
Kala itu, situasi masih dipenuhi ketidakpastian. Informasi berjalan tersendat. Banyak pihak berhati-hati bahkan cenderung menutup rapat perkembangan yang terjadi.
Namun sebagai wartawan, ia merasa masyarakat berhak mengetahui fakta.
“Karena memang tugas kita menyampaikan informasi, ya tetap saya tulis,” katanya.
Pandemi menjadi ujian besar bagi banyak profesi. Bagi wartawan, tantangannya bukan hanya risiko kesehatan, tetapi juga bagaimana menghadirkan informasi yang akurat di tengah kepanikan publik.
Di lapangan, tantangan lain juga kerap muncul.
Susanto mengaku profesi wartawan tidak pernah jauh dari risiko. Kritik terhadap sebuah kebijakan atau pemberitaan yang menyentuh kepentingan tertentu kadang memicu reaksi keras.
Ia pernah menghadapi intimidasi langsung karena sebuah karya jurnalistik.
“Saya pernah disekap di dalam mobil dan pernah dihadapkan dengan senjata api,” ungkapnya.
Meski demikian, pengalaman itu tidak membuatnya mengubah prinsip.
Baginya, setiap pihak yang merasa dirugikan oleh pemberitaan memiliki ruang untuk menjelaskan dan memberikan klarifikasi. Persoalan dapat diselesaikan melalui mekanisme yang benar tanpa harus menggunakan ancaman.
Saat menghadapi tekanan tersebut, ia memilih tetap tenang. Ia menjelaskan bahwa berita yang ditulis memiliki dasar dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pendekatan itu perlahan meredakan situasi.
“Kalau memang merasa keberatan, silakan memberikan klarifikasi,” tuturnya.
Di balik keberanian itu, Susanto mengakui wartawan tetaplah manusia biasa.
Ada rasa takut. Ada kekhawatiran.
Ada kecemasan ketika harus berhadapan dengan kelompok tertentu, aparat yang menyalahgunakan kewenangan, atau pihak yang merasa terganggu oleh sebuah pemberitaan.
Namun menurutnya, rasa takut adalah sesuatu yang wajar, dalam profesi yang risikonya tida riongan.
“Kalau takut ya takut. Pasti ada. Itu manusiawi,” katanya sambil tersenyum lebar serasa tak pernah ada kesan takutnya. .
Bagi Susanto, keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah kemampuan untuk tetap bekerja secara profesional meski rasa takut itu hadir.
Prinsip tersebut yang terus ia pegang hingga hari ini.
Ia percaya profesi wartawan memiliki batas yang jelas. Tugas wartawan adalah mencari fakta, menguji informasi, lalu menyampaikannya kepada publik. Wartawan bukan penyidik, bukan jaksa, bukan hakim yang menentukan benar atau salah seseorang.
Menurutnya, banyak persoalan muncul ketika wartawan melampaui batas profesinya sendiri.
Karena itu, kode etik jurnalistik menjadi kompas yang selalu ia bawa dalam setiap penugasan.
“Selagi kita menjalankan tugas sesuai kaidah jurnalistik, kenapa harus takut?” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan pengalaman bertahun-tahun menghadapi berbagai tekanan di lapangan.
Ia juga percaya kritik yang ditulis wartawan bukanlah bentuk kebencian kepada seseorang.
Sebaliknya, kritik adalah pengingat agar kekuasaan tetap berada di jalur yang benar.
Sering kali hubungan yang awalnya renggang karena pemberitaan akhirnya membaik setelah ada komunikasi dan penjelasan.
“Kita mengkritik bukan karena membenci personalnya, tetapi mengingatkan,” katanya.
Kini, hampir dua dekade setelah pertama kali mengenal dunia jurnalistik, Susanto masih berdiri di jalur yang sama. Jalur yang membawanya menyaksikan perubahan zaman, pandemi, dinamika politik, hingga berbagai peristiwa sosial di Kabupaten Bogor.
Baginya, wartawan bukan sekadar profesi mencari nafkah. Ia adalah amanah untuk menjaga agar fakta tetap menemukan jalannya menuju publik.
Ancaman bisa datang kapan saja. Tekanan mungkin tidak pernah benar-benar hilang. Namun selama masih berpegang pada kode etik dan tanggung jawab profesi, ia percaya satu hal.
Tidak ada berita yang seharga nyawa. Tetapi fakta tetap harus sampai kepada masyarakat.

