Tasikmalaya – Seolah membangunkan raksasa lama dari tidurnya, rencana besar pengembangan fungsi Stasiun Rajapolah dan reaktivasi Stasiun Pirusa mulai menemukan titik terang. Langkah ini digadang-gadang menjadi fondasi baru kebangkitan transportasi kereta api di wilayah Kabupaten Tasikmalaya.
Agenda tersebut mencuat saat kunjungan kerja Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan ke Stasiun Rajapolah pada Minggu (08/02/2026). Kunjungan itu menyoroti rencana strategis penguatan fungsi Stasiun Rajapolah sekaligus menghidupkan kembali Stasiun Pirusa sebagai bagian dari jaringan transportasi kereta api di wilayah tersebut. Stasiun Rajapolah sendiri merupakan stasiun kelas III yang berlokasi di Manggungjaya, Kecamatan Rajapolah, dan telah beroperasi sejak tahun 1892.
“Pembenahan sektor transportasi bukanlah agenda tambahan. Ini merupakan prioritas utama yang telah tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2024-2044,” kata Cecep Nurul Yakin.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintah daerah menempatkan sektor transportasi sebagai tulang punggung pembangunan jangka panjang. Sinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat, DPR RI, BUMN seperti PT KAI, dan pemerintah daerah menjadi kunci dalam merealisasikan rencana tersebut. Penguatan fungsi Stasiun Rajapolah serta reaktivasi Stasiun Pirusa dipandang sebagai langkah konkret untuk membuka kembali jalur-jalur strategis yang selama ini tidak optimal.
“Pengembangan Stasiun Rajapolah dan reaktivasi Stasiun Pirusa adalah langkah strategis untuk merealisasikannya,” lanjut Cecep.
Selain aspek konektivitas, dampak ekonomi menjadi pertimbangan utama dalam proyek ini. Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya meyakini bahwa akses transportasi yang lebih baik akan menekan biaya logistik serta memperluas jangkauan distribusi produk lokal. Hal ini dinilai penting mengingat Tasikmalaya memiliki potensi besar di sektor kerajinan, perdagangan, hingga pariwisata.
“Dengan kemudahan akses transportasi, akan muncul multiplier effect bagi masyarakat sekitar. Aktivitas ekonomi akan tumbuh, mobilitas meningkat, dan kawasan sekitar stasiun kembali hidup,” ujar Asep Sopari Al-Ayubi.
Ia menambahkan bahwa keberadaan jalur transportasi yang terhubung menjadi “jembatan” penting bagi pergerakan orang dan barang. Reaktivasi stasiun tidak hanya mempermudah perjalanan, tetapi juga menciptakan peluang usaha baru di sekitar wilayah operasional stasiun, mulai dari sektor UMKM hingga jasa pendukung transportasi.
Kunjungan pejabat pusat tersebut sekaligus menjadi sinyal positif bagi masyarakat yang telah lama menantikan kebangkitan jalur kereta api di Tasikmalaya. Harapannya, integrasi antar titik transportasi dapat segera terwujud sehingga meningkatkan daya saing daerah, baik di tingkat regional maupun nasional.
Dengan rencana besar ini, Kabupaten Tasikmalaya bersiap menata ulang sistem transportasinya, menjadikan kereta api sebagai penggerak utama konektivitas dan pertumbuhan ekonomi di masa depan.

