Sangatta – Rumah Jabatan (Rujab) Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) kini bukan hanya tempat tinggal pejabat, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk berdiskusi dan menyampaikan aspirasi. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, usai menggelar acara buka puasa bersama sekaligus syukuran menempati rujab di Bukit Pelangi, Senin (10/3/2025).
Dalam kesempatan itu, Mahyunadi menekankan pentingnya keterbukaan pemerintah terhadap masyarakat. Ia ingin menjadikan rumah jabatannya sebagai tempat yang bisa diakses oleh siapa saja, tanpa sekat birokrasi yang berlebihan.
“Rujab ini terbuka untuk masyarakat, saya juga gak ingin jauh-jauh dengan masyarakat,” ungkap Mahyunadi.
Ia berharap, dengan adanya keterbukaan ini, masyarakat merasa lebih dekat dengan pemerintah dan tidak segan untuk menyampaikan keluhan maupun aspirasi mereka. Baginya, rumah jabatan bukan hanya simbol kekuasaan, tetapi juga tempat yang bisa menjadi jembatan komunikasi antara pemimpin dan rakyatnya.
Mahyunadi juga menyoroti pentingnya menjaga silaturahmi, terutama dalam momen Ramadan yang penuh berkah. Menurutnya, kebersamaan yang terjalin dalam acara buka puasa bersama ini dapat mempererat hubungan antara pemerintah daerah dan masyarakat.
“Buka puasa bersama seperti ini adalah momentum yang baik untuk mempererat hubungan antar sesama, terutama di lingkungan pemerintah daerah. Semoga kebersamaan ini membawa kebaikan bagi kita semua,” kata Mahyunadi.
Acara tersebut tidak hanya dihadiri oleh masyarakat Muslim, tetapi juga oleh warga non-Muslim yang turut meramaikan kegiatan sebagai bentuk toleransi antarumat beragama. Kehadiran mereka mencerminkan nilai keberagaman yang kuat di Kutai Timur, di mana setiap individu dapat hidup berdampingan dengan harmoni.
“Ini adalah bentuk toleransi, kami senang mereka datang” ujar Mahyunadi
Mahyunadi berharap agar nilai-nilai kebersamaan dan keterbukaan yang ia terapkan dalam kepemimpinannya bisa menjadi contoh bagi pemerintah daerah lainnya. Dengan membuka ruang dialog langsung di rumah jabatannya, ia ingin memastikan bahwa suara masyarakat benar-benar didengar dan diperhatikan.
Dengan konsep keterbukaan ini, diharapkan berbagai permasalahan di Kutai Timur dapat lebih cepat diatasi melalui komunikasi yang lebih efektif antara masyarakat dan pemerintah. Mahyunadi pun menegaskan bahwa ia siap menerima siapa saja yang ingin berdiskusi atau menyampaikan keluhan, baik secara langsung maupun melalui forum yang akan rutin digelar di rumah jabatannya.
Semangat keterbukaan yang ditunjukkan Mahyunadi menjadi langkah konkret dalam membangun kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah. Ia berharap, dengan pendekatan yang lebih humanis, masyarakat akan lebih aktif berpartisipasi dalam pembangunan daerah.

