Tasikmalaya – Menulis artikel ilmiah tidak cukup hanya mengumpulkan data dan menyusun referensi. Penulis juga harus memahami metode penelitian, membangun argumentasi, serta menjaga kejujuran akademik. Persoalan inilah yang menjadi perhatian dalam Masterclass ARIL bertajuk Tuntaskan Artikel Ilmiah dan Maksimalkan Peluang Publikasi Jurnal, yang diikuti peserta dari berbagai daerah, Kamis (8/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung melalui Zoom Meeting pada pukul 09.00–12.00 WIB tersebut diselenggarakan melalui kerja sama dengan ScieDEX dan SALUT Tasikmalaya Unit Khalifa. Dua narasumber, Dr. Lina Marlina, S.Pd., M.M. dan Ahmad Mundzir, membahas anatomi artikel ilmiah, pendekatan penelitian, pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara etis, serta persiapan publikasi melalui Open Journal Systems (OJS).
Keterlibatan peserta lintas daerah menjadi bagian penting dari kegiatan ini. Melalui pembelajaran daring, peserta dapat memperoleh pengetahuan mengenai penulisan dan publikasi ilmiah tanpa harus menghadiri pelatihan secara langsung di satu lokasi.
Kolaborasi dengan ScieDEX dan SALUT Tasikmalaya Unit Khalifa turut memperluas ruang pembelajaran akademik. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penyelesaian naskah, tetapi juga membekali peserta dengan pemahaman mengenai proses penelitian dan persyaratan yang perlu diperhatikan sebelum artikel diajukan ke jurnal.
Artikel Ilmiah Dimulai dari Pertanyaan Penelitian
Dalam materinya, Dr. Lina Marlina mengawali pembahasan dengan menjelaskan hakikat artikel ilmiah sebagai jawaban atas pertanyaan penelitian yang disusun secara sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut materi yang disampaikan, sebuah artikel ilmiah pada dasarnya lahir dari tiga pertanyaan, yakni apa yang ingin diketahui, bagaimana cara memperoleh jawabannya, dan apa yang ditemukan melalui penelitian.
Pendekatan tersebut menempatkan masalah penelitian sebagai dasar penyusunan artikel. Dengan demikian, penulis tidak sekadar mengikuti format jurnal, tetapi harus memastikan bahwa setiap bagian tulisan memiliki hubungan dengan pertanyaan yang ingin dijawab.
“Metode dipilih dari pertanyaan penelitian, bukan sebaliknya,” demikian penegasan dalam materi Dr. Lina Marlina pada Masterclass ARIL yang berlangsung melalui Zoom Meeting, Kamis (8/10/26).
Lina juga menguraikan berbagai pendekatan yang dapat digunakan untuk menghasilkan artikel ilmiah, mulai dari penelitian kuantitatif, kualitatif, metode campuran atau mixed methods, penelitian dan pengembangan (research and development), hingga kajian literatur dan artikel konseptual.
Setiap pendekatan memiliki karakteristik serta tujuan berbeda. Penelitian kuantitatif, misalnya, digunakan untuk mengukur hubungan atau pengaruh antarvariabel, sedangkan penelitian kualitatif lebih menekankan pemahaman mendalam mengenai pengalaman, perilaku, dan makna suatu fenomena.
Dalam pembahasan metode kualitatif, peserta diperkenalkan dengan etnografi dan netnografi. Etnografi berfokus pada kehidupan sosial dan budaya masyarakat, sementara netnografi mengadaptasi pendekatan tersebut untuk memahami interaksi serta perilaku manusia dalam lingkungan digital.
Materi ini juga menyinggung kesalahan dalam membedakan metode penelitian dengan perangkat lunak analisis. SmartPLS, misalnya, bukan metode penelitian, melainkan perangkat lunak yang dapat digunakan untuk analisis Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM).
Pembedaan tersebut penting karena pemilihan metode harus didasarkan pada tujuan penelitian, bukan semata-mata pada aplikasi pengolahan data yang dikuasai penulis.
Mengupas Struktur Artikel dari Awal hingga Akhir
Pembahasan berlanjut pada anatomi artikel ilmiah yang mencakup judul, abstrak, pendahuluan, kajian literatur, metode, hasil penelitian, pembahasan, kesimpulan, dan daftar pustaka.
Salah satu kerangka yang diperkenalkan adalah IMRaD, singkatan dari Introduction, Methods, Results, and Discussion. Kerangka ini banyak digunakan dalam artikel penelitian empiris karena menyajikan proses penelitian secara berurutan.
Pada bagian pendahuluan, penulis perlu menjelaskan masalah penelitian, bukti pendukung, kajian terdahulu, kesenjangan penelitian atau research gap, serta kebaruan yang ingin ditawarkan. Pendahuluan juga harus mengarahkan pembaca pada tujuan atau pertanyaan penelitian.
Kajian literatur tidak cukup disusun dengan mengumpulkan kutipan dari berbagai sumber. Penulis perlu melakukan sintesis, membandingkan hasil penelitian terdahulu, dan menjelaskan hubungan teori dengan persoalan yang sedang diteliti.
Sementara itu, bagian metode perlu memuat desain penelitian, sumber data atau partisipan, teknik pengumpulan data, prosedur, analisis, dan pertimbangan etika. Penjelasan metode memungkinkan pembaca menilai bagaimana penelitian dilakukan.
Pada bagian pembahasan, penulis tidak cukup mengulang hasil penelitian yang telah disajikan. Temuan harus dihubungkan dengan teori dan penelitian sebelumnya, sekaligus dijelaskan kontribusinya terhadap perkembangan pengetahuan.
Adapun kesimpulan perlu merangkum temuan utama, menjelaskan kontribusi serta implikasi penelitian, dan menyebutkan keterbatasannya. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya dapat disampaikan berdasarkan hasil yang benar-benar diperoleh.
Ahmad Mundzir Ingatkan Batas Etika Penggunaan AI
Selain teknik penulisan, Masterclass ARIL mengangkat persoalan penggunaan AI dalam riset akademik melalui materi Ahmad Mundzir.
Dalam paparannya, Ahmad memperkenalkan prinsip bahwa AI merupakan research assistant, bukan researcher. Teknologi dapat membantu pekerjaan penelitian, tetapi tidak menggantikan tanggung jawab ilmiah manusia.
“AI membantu kerja riset; kendali intelektual tetap pada peneliti,” tertulis dalam materi Ahmad Mundzir pada Masterclass ARIL melalui Zoom Meeting, Kamis (8/10/26).
Materi tersebut menjelaskan sejumlah pekerjaan yang dapat dibantu AI, seperti mencari gagasan topik, menyusun kata kunci literatur, mengembangkan kerangka tulisan, menjelaskan istilah, dan memperbaiki bahasa akademik.
Namun, peneliti tetap bertanggung jawab memastikan validitas data, memilih metode, menafsirkan hasil, memeriksa referensi, dan merumuskan kesimpulan berdasarkan bukti yang tersedia.
Untuk memudahkan pemahaman, Ahmad membagi penggunaan AI dalam tiga kategori, yakni zona hijau, kuning, dan merah.
Zona hijau mencakup aktivitas yang umumnya aman, seperti mencari ide topik, menyusun kerangka awal, memperbaiki tata bahasa, dan membuat kata kunci pencarian literatur.
Zona kuning meliputi penggunaan yang masih dimungkinkan, tetapi membutuhkan pemeriksaan lebih ketat. Contohnya merangkum artikel, menjelaskan hasil statistik, membantu pengodean awal data kualitatif, serta menyusun draf paragraf.
Sementara itu, zona merah mencakup praktik yang tidak etis, seperti menciptakan data penelitian, membuat responden fiktif, mengarang hasil wawancara, menghasilkan referensi palsu, atau mengubah hasil analisis agar terlihat signifikan.
Waspadai Referensi Palsu dan Kesalahan AI
Ahmad juga menyoroti risiko hallucination, yaitu kondisi ketika AI menghasilkan informasi yang tampak meyakinkan, tetapi tidak sesuai dengan fakta.
Dalam penulisan ilmiah, persoalan ini dapat muncul dalam bentuk judul artikel fiktif, nama penulis yang keliru, atau Digital Object Identifier (DOI) yang sebenarnya tidak tersedia.
Kesalahan lain dapat terjadi ketika AI menafsirkan hasil statistik tanpa memahami keseluruhan data atau menyederhanakan persoalan penelitian secara berlebihan.
Sebagai langkah pencegahan, materi Ahmad memperkenalkan prinsip VERIFY, yang terdiri atas Verify facts, Examine references, Review reasoning, Inspect data consistency, Follow journal policy, dan You remain responsible.
Prinsip tersebut mengarahkan peneliti untuk memeriksa fakta, memastikan keberadaan referensi, meninjau logika analisis, mencocokkan hasil dengan data asli, mengikuti kebijakan jurnal, dan mempertahankan tanggung jawab atas seluruh isi penelitian.
Perhatian juga diberikan pada perlindungan data. Identitas responden, transkrip wawancara sensitif, serta dokumen penelitian yang bersifat terbatas tidak boleh sembarangan dimasukkan ke layanan AI tanpa mempertimbangkan izin dan privasi.
Memahami Jalan Menuju Publikasi Jurnal
Rangkaian Masterclass ARIL juga mengangkat strategi dan peluang publikasi melalui OJS, yakni sistem pengelolaan jurnal ilmiah berbasis digital.
OJS digunakan untuk membantu proses penerbitan, mulai dari pengiriman naskah, pemeriksaan editor, penelaahan sejawat atau peer review, revisi, hingga publikasi artikel.
Bagi penulis yang baru mempersiapkan publikasi, pemahaman mengenai alur tersebut menjadi bekal penting. Sebelum mengirimkan naskah, penulis harus memperhatikan kesesuaian bidang penelitian dengan cakupan jurnal, ketentuan penulisan, dan kualitas substansi artikel.
Keberhasilan mengunggah artikel melalui OJS tidak berarti naskah otomatis diterima. Artikel tetap harus melewati penilaian sesuai kebijakan editorial dan standar ilmiah jurnal yang dituju.
Oleh karena itu, penyelesaian artikel ilmiah perlu dibarengi kesiapan menghadapi masukan reviewer dan memperbaiki naskah berdasarkan penilaian akademik.
Kolaborasi Perluas Akses Pembelajaran Ilmiah
Kerja sama Masterclass ARIL dengan ScieDEX dan SALUT Tasikmalaya Unit Khalifa memberikan ruang bagi peserta dari berbagai daerah untuk mempelajari persoalan penulisan serta penerbitan ilmiah dalam satu kegiatan.
Model pembelajaran daring juga memungkinkan pertukaran pengetahuan melampaui batas wilayah. Peserta dapat mengenal pendekatan penelitian yang berbeda sekaligus memahami perkembangan teknologi yang memengaruhi praktik penulisan akademik.
Keterampilan tersebut relevan bagi mahasiswa, dosen, guru, maupun peneliti yang membutuhkan kemampuan menyusun karya berdasarkan metode dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di tengah semakin mudahnya memperoleh informasi dan menggunakan AI, tantangan penulisan ilmiah bukan hanya menghasilkan naskah dengan cepat. Penulis juga harus memastikan keaslian gagasan, ketepatan metode, kualitas analisis, serta kejujuran dalam menyampaikan temuan.
Masterclass ARIL pada 8 Oktober 2026 menghadirkan pembelajaran yang menghubungkan dasar-dasar penelitian dengan tuntutan publikasi jurnal. Melalui kolaborasi dan partisipasi lintas daerah, kegiatan ini membuka kesempatan bagi peserta untuk mempersiapkan artikel secara lebih sistematis, kritis, dan bertanggung jawab sebelum memasuki proses penerbitan ilmiah.

