Tasikmalaya – Ratusan mahasiswa baru Politeknik Triguna Tasikmalaya resmi memulai perjalanan akademiknya melalui Sidang Senat Terbuka penerimaan mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027, Kamis (24/9/2026). Rangkaian kegiatan yang menjadi bagian dari Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru atau PKKMB itu juga diisi penyematan tanda mahasiswa serta pengenalan sistem Outcome-Based Education atau OBE.
Sidang senat terbuka dihadiri jajaran senat, ketua program studi, dosen, mahasiswa lama, serta mahasiswa baru. Kegiatan tersebut menjadi tahap formal penerimaan mahasiswa sekaligus ruang bagi kampus untuk memperkenalkan pola pembelajaran yang akan mereka jalani selama menempuh pendidikan di Politeknik Triguna Tasikmalaya.
Penetapan mahasiswa baru dilakukan melalui pembacaan Surat Keputusan Direktur Politeknik Triguna Tasikmalaya Nomor 005/POLTEK-TSI/IX/2026 tentang Penerimaan Mahasiswa Baru Politeknik Triguna Tasikmalaya Tahun Akademik 2026/2027.
Surat keputusan dibacakan Sekretariat Senat Cecep M. Kapi, S.Kom., M.M. Dalam keputusan tersebut, mahasiswa yang namanya tercantum dalam lampiran resmi diterima sebagai mahasiswa Politeknik Triguna Tasikmalaya.
Para mahasiswa selanjutnya diberikan nomor pokok mahasiswa serta memperoleh hak dan kewajiban sesuai ketentuan yang berlaku. Keputusan ditetapkan di Tasikmalaya pada 24 September 2026 oleh Direktur Politeknik Triguna Tasikmalaya, Ir. Ubaidillah, M.M.
Lampiran surat keputusan memuat mahasiswa dari sejumlah program studi di lingkungan kampus. Dalam sidang tersebut turut disebut Program Studi Komputerisasi Akuntansi, Manajemen Perusahaan, Keuangan dan Perbankan, serta Sistem Informasi Bisnis.
Setelah penetapan melalui surat keputusan, rangkaian acara dilanjutkan dengan penyematan tanda mahasiswa. Prosesi tersebut menjadi simbol perubahan status peserta didik dari jenjang SMA, SMK, maupun madrasah aliyah menjadi bagian dari komunitas akademik Politeknik Triguna Tasikmalaya.

Penyematan tanda mahasiswa tidak hanya menjadi bagian dari seremoni. Bersamaan dengan penetapan melalui sidang senat, prosesi tersebut menandai dimulainya hak, kewajiban, serta tanggung jawab akademik yang harus dijalankan mahasiswa selama masa studi.
Direktur Politeknik Triguna Tasikmalaya, Ir. Ubaidillah, M.M., dalam sambutannya menekankan bahwa status mahasiswa membawa tuntutan berbeda dibandingkan ketika masih berada di bangku sekolah.

“Mulai hari ini saudara bukan lagi siswa SMA, madrasah aliyah ataupun SMK, tetapi mulai hari ini saudara menjadi mahasiswa,” ujar Ir. Ubaidillah, M.M., saat memberikan pidato dalam Sidang Senat Terbuka penerimaan mahasiswa baru Politeknik Triguna Tasikmalaya di Tasikmalaya (24/9/26).
Ubaidillah mengingatkan mahasiswa baru bahwa dunia kerja terus berubah. Karena itu, menurut dia, pendidikan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah atau nilai akademik tinggi.
“Dunia kerja itu terus berubah, karena itu memiliki ijazah saja itu tidak cukup. Saudara harus memiliki keterampilan juga karakter,” kata Ubaidillah di hadapan mahasiswa baru dalam Sidang Senat Terbuka Politeknik Triguna Tasikmalaya (24/9/26).
Ia menempatkan pengetahuan, keterampilan, dan karakter sebagai tiga unsur utama yang perlu diperkuat mahasiswa selama kuliah. Ketiganya akan dibangun sepanjang tiga tahun bagi mahasiswa program diploma tiga maupun empat tahun bagi mahasiswa program sarjana terapan.
Pengetahuan menjadi dasar untuk memahami bidang keilmuan yang dipelajari. Keterampilan dibutuhkan agar mahasiswa mampu menggunakan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan persoalan, sedangkan karakter berkaitan dengan kedisiplinan, tanggung jawab, komunikasi, serta kemampuan membangun kepercayaan.
“Begitu lulus dari Poltekri, pertanyaan yang pertama, ‘Apa yang bisa saya lakukan?’ Ini tentu berkaitan dengan keterampilan. Kemudian, ‘Apakah saya ini bisa dipercaya?’ Ini adalah karakter,” ujar Ubaidillah ketika menjelaskan orientasi pendidikan kepada mahasiswa baru di Tasikmalaya (24/9/26).
Mulai tahun ajaran 2026, Politeknik Triguna Tasikmalaya menerapkan sistem Outcome-Based Education. OBE merupakan pendekatan pembelajaran yang menempatkan capaian mahasiswa sebagai bagian utama dari proses pendidikan.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya dinilai dari seberapa banyak teori yang dipahami, tetapi juga dari kemampuan menggunakan pengetahuan, menyelesaikan persoalan, berkomunikasi, dan bekerja bersama orang lain.
“Kita ingin meluluskan bukan hanya nilai yang tinggi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menyelesaikan suatu permasalahan,” kata Ubaidillah saat menjelaskan penerapan Outcome-Based Education dalam Sidang Senat Terbuka Politeknik Triguna Tasikmalaya (24/9/26).
Dalam pelaksanaannya, pembelajaran akan dikembangkan melalui sejumlah tahapan. Mahasiswa akan berhadapan dengan studi kasus kelompok, studi kasus individu, simulasi kasus di kelas, diskusi kelompok, hingga penguatan pengetahuan melalui kuis dalam pertemuan pembelajaran.
Pola tersebut menempatkan mahasiswa sebagai peserta aktif. Ruang kuliah tidak hanya menjadi tempat menerima penjelasan dari dosen, tetapi juga ruang untuk membahas persoalan, menyampaikan gagasan, bekerja dalam kelompok, serta mencari solusi berdasarkan pengetahuan yang dipelajari.
Pendekatan itu sejalan dengan karakter pendidikan politeknik yang menekankan pembelajaran terapan. Mahasiswa diharapkan mampu menghubungkan teori dengan persoalan yang dapat ditemui ketika menjalani praktik maupun setelah memasuki dunia kerja.
Ubaidillah juga memberi perhatian pada pembentukan karakter. Menurut dia, capaian akademik yang tinggi perlu disertai kedisiplinan, kerajinan, kemampuan komunikasi, serta kesanggupan menyelesaikan masalah.
Bagi ratusan mahasiswa baru, pesan tersebut menjadi gambaran awal tentang kehidupan akademik yang akan dihadapi. Peralihan dari siswa menjadi mahasiswa menuntut kemampuan mengatur waktu, belajar mandiri, bekerja dalam kelompok, serta bertanggung jawab terhadap proses pendidikan sendiri.
PKKMB dalam hal ini tidak hanya menjadi ajang untuk mengenal lingkungan fisik kampus. Kegiatan itu juga menjadi ruang awal untuk memahami budaya akademik, sistem pembelajaran, tata kehidupan mahasiswa, dan hubungan antara pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.
“Politeknik Triguna hanya memberikan metode dan sarana, tapi yang melaksanakannya itu adalah Anda. Sukses ada di tangan Anda. Jadi siap-siaplah untuk belajar sungguh-sungguh,” ujar Ubaidillah saat menutup arahannya kepada mahasiswa baru dalam Sidang Senat Terbuka di Tasikmalaya (24/9/26).
Dalam pidatonya, Ubaidillah juga menyampaikan bahwa kegiatan pembelajaran akan mulai berjalan pada Senin pekan berikutnya. Dengan demikian, rangkaian sidang senat, penyematan tanda mahasiswa, dan PKKMB menjadi masa transisi sebelum mahasiswa mengikuti perkuliahan reguler.
Penerimaan mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 memberi dua penanda sekaligus bagi mahasiswa Politeknik Triguna Tasikmalaya. Secara formal, mereka telah ditetapkan melalui keputusan direktur dan mengikuti penyematan tanda mahasiswa; secara akademik, mereka mulai diperkenalkan pada pola pembelajaran berbasis capaian.
Bagi mahasiswa baru, awal tahun akademik tersebut bukan hanya tentang mendapatkan status baru. Mereka mulai memasuki proses untuk membangun tiga bekal yang ditekankan kampus: pengetahuan, keterampilan, dan karakter.
Dari ruang sidang senat itu, perjalanan ratusan mahasiswa baru Politeknik Triguna Tasikmalaya dimulai. Tanda mahasiswa yang disematkan menjadi simbol awal, sementara kemampuan yang dibangun selama masa kuliah akan menjadi ukuran ketika mereka kelak berhadapan dengan dunia kerja dan kehidupan di luar kampus.

