Jakarta – Di tengah derasnya arus kecerdasan buatan yang kian “menyusup” ke ruang kerja ilmiah, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengingatkan bahwa teknologi secanggih apa pun tidak dapat mengambil alih kejernihan nurani seorang peneliti. AI, kata dia, boleh mempercepat kerja teknis, tetapi kebijaksanaan tetap lahir dari hati manusia.
Pernyataan itu disampaikan Arif dalam kegiatan pengukuhan profesor riset di Jakarta, Kamis (21/5/2026). Ia menyoroti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat, termasuk dominasi artificial intelligence dalam aktivitas riset, analisis, dan pengolahan data. Namun, menurutnya, kemajuan tersebut tidak boleh membuat dunia penelitian kehilangan sisi kemanusiaan. AI dapat membantu kemampuan teknis berpikir dan meriset, tetapi tidak mampu menggantikan nilai, nurani, dan tanggung jawab moral manusia.
“Di kala sekarang AI sudah menjadi dominan, di kala sekarang ini AI itu menjadi sesuatu yang keniscayaan, maka AI sudah bisa menggantikan banyak hal, dalam hal yang berkaitan dengan soal kemampuan teknis kita berpikir, kemampuan teknis kita meriset dan sebagainya. Tapi kekuatan wisdom, itulah kekuatan hati. Soal hati ini tidak bisa digantikan oleh AI,” ujar Arif.
Arif menekankan bahwa peneliti, khususnya profesor riset dan ilmuwan senior, memiliki tanggung jawab lebih besar untuk menjadi teladan bagi generasi muda. Menurutnya, mereka tidak hanya dituntut menghasilkan temuan ilmiah, tetapi juga menghadirkan ilmu yang memberi arah perubahan bagi masyarakat. Dalam pandangannya, riset tidak boleh berhenti sebagai aktivitas akademik semata, melainkan harus menjadi jalan untuk mempercepat kemajuan dan memperbaiki kehidupan.
“Apa artinya ilmu hanya untuk ilmu? Apa artinya riset hanya untuk riset? Tentu, kita dilahirkan di muka bumi ini adalah dalam rangka untuk mempercepat proses perubahan ke arah yang lebih baik,” tutur Arif.
Ia juga mengingatkan bahwa manusia dibekali akal, otak, dan hati untuk menjalankan mandat perubahan. Karena itu, kekuatan nalar harus selalu diimbangi dengan nurani. Tanpa keseimbangan tersebut, kemajuan teknologi berisiko melahirkan dehumanisasi, yakni kondisi ketika manusia mulai tersisih dari nilai-nilai kemanusiaannya sendiri akibat dominasi sistem dan mesin.
“Mandat kita sebagai manusia karena kita yang hadir di muka bumi untuk membawa perubahan, untuk membawa kemajuan. Kita dibekali oleh Tuhan berupa otak, berupa akal, dan berupa hati. Jadi, dalam diri manusia itu nurani, itulah yang juga harus terus dibangkitkan ya, untuk mengimbangi kekuatan akal kita, kekuatan nalar kita, kekuatan otak kita,” sambung Arif.
Selain menyoroti AI, Arif turut menyinggung tantangan dalam bidang ilmu sosial di Indonesia. Ia melihat kekayaan sosial dan budaya bangsa selama ini kerap lebih banyak dikaji oleh peneliti asing dengan teori serta sudut pandang mereka sendiri. Kondisi itu, menurutnya, perlu dijawab oleh ilmuwan Indonesia dengan rasa percaya diri yang lebih kuat dalam membangun teori, narasi, dan perspektif berbasis realitas lokal.
Arif mendorong para ilmuwan sosial di Tanah Air untuk lebih aktif menggali keragaman Indonesia sebagai sumber pengetahuan. Dengan kekayaan budaya, nilai, dan pengalaman sosial yang sangat luas, Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk ikut memperkaya khazanah ilmu pengetahuan global. Ia menilai bangsa ini tidak hanya perlu menjadi objek penelitian, tetapi juga produsen ilmu yang diakui dunia.
“Nah, itulah yang menurut saya yang diperlukan hari ini adalah bagaimana kita terus confidence. Confidence dengan cara pandang kita, dengan kekayaan kita, kekayaan nilai budaya kita, dan kekayaan realitas yang ada di Indonesia. Dan itu adalah bisa menjadi sebuah model bagi kita untuk memperkaya hasrat ilmu pengetahuan global,” terang Arif.
Pesan Arif menjadi pengingat bahwa kemajuan AI perlu ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemanusiaan. Dalam dunia riset, teknologi dapat mempercepat proses, tetapi arah, etika, dan kebermanfaatannya tetap bergantung pada kebijaksanaan peneliti yang memegang kendali.

