Tasikmalaya – Ibarat bara kecil yang perlahan membesar, tekanan harga di Kota Tasikmalaya kembali terasa pada Maret 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kota ini mengalami inflasi bulanan sebesar 0,44 persen, dengan lonjakan tahunan (year-on-year) mencapai 3,87 persen.
Data resmi yang dirilis pada Selasa (1/4/2026) menunjukkan bahwa kenaikan tersebut ditandai dengan meningkatnya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,70 pada Februari menjadi 111,19 pada Maret 2026. Inflasi ini terjadi akibat naiknya harga di sebagian besar kelompok pengeluaran, terutama sektor makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,62 persen. Selain itu, sektor transportasi turut menyumbang inflasi sebesar 0,60 persen, diikuti kelompok informasi dan jasa keuangan sebesar 0,31 persen.
“Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran,” demikian keterangan resmi BPS Kota Tasikmalaya dalam laporan tersebut.
Kenaikan harga komoditas pangan menjadi faktor dominan. Berdasarkan laporan pada halaman 5, komoditas seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan beras menjadi penyumbang utama inflasi bulanan. Sementara untuk inflasi tahunan, faktor seperti emas perhiasan, tarif listrik, dan kembali daging ayam ras menjadi pendorong signifikan.
Meski demikian, tidak semua sektor mengalami kenaikan. Beberapa kelompok justru mencatat deflasi, seperti pakaian dan alas kaki yang turun 1,12 persen, serta sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami penurunan hingga 0,85 persen. Hal ini menunjukkan adanya dinamika harga yang tidak merata di berbagai sektor ekonomi masyarakat.
“Kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi yaitu pakaian dan alas kaki serta perawatan pribadi dan jasa lainnya,” lanjut laporan tersebut.
Secara kumulatif, inflasi tahun kalender (Januari–Maret 2026) tercatat sebesar 1,37 persen. Angka ini menunjukkan tren kenaikan harga yang relatif terkendali, meskipun tetap perlu diwaspadai, terutama menjelang momen besar seperti Ramadan dan Idulfitri yang biasanya mendorong lonjakan permintaan.
Grafik perbandingan pada halaman 12 juga memperlihatkan bahwa inflasi tahunan 2026 berada di atas tahun sebelumnya, menandakan adanya tekanan harga yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini menjadi perhatian bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Dengan tren ini, pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah strategis, seperti pengendalian harga bahan pokok dan menjaga kelancaran distribusi. Inflasi yang terkendali menjadi kunci penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah serta kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

