Sidoarjo – Di sebuah rumah sederhana yang terletak di Pondok Sidokare Indah, Blok XX No. 8, Sidoarjo, terdengar suara mesin jahit yang berpadu dengan denting alat rajut. Rumah itu milik Yuni Suwanti Asih, seorang perempuan yang rela meninggalkan pekerjaannya sebagai tenaga administrasi di Dinas PU Cipta Karya demi mengejar impian masa kecilnya: merajut.
Yuni, yang akrab disapa June SA di dunia rajut dan wirausaha, memulai perjalanan barunya pada 27 Desember 2018. Dengan hanya bermodalkan hobi dan kecintaannya pada benang dan hakpen, ia merintis usaha kerajinan rajut yang kini dikenal dengan nama June SA Crochet.
“Sejak kecil, saya sudah suka merajut. Hobi itu terus saya lakukan selama bekerja. Akhirnya, saya berpikir, kenapa tidak mencoba mengembangkan hobi ini menjadi usaha?” ujar Yuni saat berbincang dengan tim Etara.id di kediamannya, Rabu (4/9/2024).

Perjalanan Yuni dalam dunia rajut tidaklah mudah. Dengan peralatan sederhana seperti hakpen, benang rajut, jarum tapestry, stitch marker, dan gunting, Yuni mulai menghasilkan berbagai kreasi rajut. Dari tas, pakaian, hingga aksesoris rumah tangga, semua dihasilkan dari tangan kreatifnya. Karyanya tidak hanya dijual secara online melalui platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan Shopee, tetapi juga dipasarkan secara offline melalui pameran dan toko-toko di Sidoarjo.
Namun, tantangan terbesar yang dihadapinya adalah pemasaran. Meski demikian, Yuni tidak menyerah. Ia berkolaborasi dengan para perajin rajut di Sidoarjo untuk mengerjakan proyek tas rajut yang diekspor ke luar negeri. “Berkat proyek ini, omzet saya meningkat hingga mencapai sekitar 7 juta rupiah,” ungkapnya dengan bangga.
Pemerintah juga turut berperan dalam perkembangan usaha Yuni. Melalui fasilitas pelatihan kewirausahaan, bantuan permodalan Dagulir, dan penyediaan stand gratis di berbagai event, Yuni merasakan dukungan nyata untuk usahanya. Meski demikian, Yuni berharap ada penilaian yang lebih tinggi terhadap produk-produk rajut. “Saya berharap pemerintah dan masyarakat bisa melihat nilai dari setiap produk handmade, sehingga harganya bisa lebih dihargai,” tambahnya.
Panda Mochamad Mufit, salah satu perajut laki-laki di Sidoarjo yang telah merajut sejak Agustus 2018, juga merasakan hal yang sama. “Saya merajut untuk mengasah keterampilan dan menambah penghasilan. Karya-karya saya sudah banyak diapresiasi oleh komunitas, dan ini membuat saya semakin percaya diri,” kata Panda.
Ia pun berharap agar karya rajut bisa menjadi bagian dari fashion resmi di Indonesia, bahkan sebagai kelengkapan kerja di kantor-kantor pemerintah. “Rajut bukan hanya sekadar hobi, tapi juga seni yang memiliki nilai lebih. Saya berharap ada lebih banyak kesempatan untuk kami para perajin agar karya kami bisa lebih dikenal,” pungkas Panda.
Di tangan Yuni dan Panda, rajut bukan hanya sebuah hobi, tetapi sebuah perjuangan untuk menjadikan karya lokal Indonesia lebih dihargai dan diakui. Dengan semangat dan ketekunan, mereka membuktikan bahwa impian masa kecil bisa menjadi kenyataan, bahkan menjadi sumber penghidupan yang membanggakan.

