Jakarta – Sekolah kini tidak hanya menunggu anak datang. Pemerintah mencoba membalik pendekatan itu dengan membawa layanan pendidikan lebih dekat kepada anak-anak yang terputus dari sekolah karena jarak, kondisi sosial, pekerjaan, maupun hambatan lainnya.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencanangkan Sistem Penerimaan Murid Baru Pendidikan Jarak Jauh jenjang menengah 2026 sebagai bagian dari upaya mengembalikan anak tidak sekolah ke pembelajaran. Program tersebut direncanakan berlangsung di 32 provinsi dengan melibatkan 132 sekolah.
Modelnya tidak berhenti pada proses pendaftaran. Pemerintah menyebut penjangkauan, pendampingan, keberlanjutan belajar, hingga penyelesaian pendidikan sebagai rangkaian yang perlu berjalan bersama.
“Negara harus hadir mendekati dan menjemput mereka,” kata Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen Suharti dalam Webinar Nasional Pencanangan SPMB PJJ di Jakarta (4/7/26).
Pendekatan tersebut penting bagi daerah yang memiliki hambatan geografis dan sosial berbeda. Anak dapat berhenti sekolah bukan semata karena tidak tersedia bangunan pendidikan, tetapi juga karena perjalanan yang jauh, tuntutan membantu keluarga, perpindahan tempat tinggal, atau kesulitan mengikuti jadwal belajar reguler.
Pendidikan jarak jauh menawarkan fleksibilitas, tetapi sekaligus membawa tantangan. Murid tetap memerlukan pendampingan, materi yang sesuai, sistem evaluasi, serta interaksi dengan pendidik agar pembelajaran tidak berubah menjadi sekadar pemberian tugas.
Akses perangkat dan internet juga tidak merata. Karena itu, penerapan PJJ perlu menyesuaikan keadaan daerah, termasuk menggunakan kombinasi pembelajaran daring, luring, modul, atau dukungan sekolah yang menjadi penyelenggara.
Pemerintah daerah memegang peran penting karena mereka memiliki data dan pengetahuan lebih dekat mengenai anak yang tidak lagi berada di sekolah. Penjangkauan akan sulit dilakukan bila data pendidikan, kependudukan, desa, dan layanan sosial tidak saling terhubung.
Program di 32 provinsi ini juga menjadi ujian tentang bagaimana sistem pendidikan melayani anak yang tidak cocok dengan pola sekolah konvensional. Fleksibilitas bukan berarti menurunkan standar, melainkan mencari cara berbeda agar hak belajar tetap dapat dipenuhi.
Bagi keluarga, pilihan pendidikan yang lebih lentur dapat membuka kembali kesempatan yang sebelumnya tertutup. Anak yang telah terlanjur meninggalkan sekolah tidak harus menganggap pendidikan formalnya selesai untuk selamanya.
Keberhasilan PJJ akhirnya bergantung pada kemampuan sistem mempertahankan murid hingga menyelesaikan jenjang pendidikan. Membuka pintu pendaftaran adalah langkah pertama; memastikan anak tetap belajar menjadi pekerjaan yang jauh lebih panjang.

