Kutim – Sungai yang dulu menjadi batas dan penghalang, kini berubah menjadi saksi bisu lahirnya harapan baru. Setelah 13 tahun terbengkalai, Jembatan Nibung akhirnya rampung dan mulai dimanfaatkan masyarakat, menandai berakhirnya keterisolasian wilayah pesisir di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Jembatan yang menghubungkan Desa Kadungan Jaya dan Pelawan di Kecamatan Kaubun dan Sangkulirang itu selama bertahun-tahun hanya menjadi proyek setengah jadi. Warga terpaksa mengandalkan transportasi sungai untuk menyeberang, dengan biaya yang tidak murah serta risiko keselamatan ketika cuaca memburuk. Kondisi tersebut berdampak langsung pada distribusi hasil pertanian dan perikanan, serta akses layanan pendidikan dan kesehatan.
Di bawah kepemimpinan Rudy–Seno, penyelesaian proyek ini dipercepat hingga akhirnya dapat difungsikan. Gubernur Kalimantan Timur yang akrab disapa Harum menyampaikan bahwa kehadiran jembatan ini bukan sekadar infrastruktur, tetapi simbol komitmen pemerintah terhadap pemerataan pembangunan.
“Mudah-mudahan jembatan ini memberikan manfaat besar bagi masyarakat Kadungan Jaya dan Pelawan, Kecamatan Kaubun dan Sangkulirang. Yakinlah, jembatan ini bukan hanya milik kita, tetapi milik kita semua,” ucapnya.
Ia menegaskan, pembangunan infrastruktur harus dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat. Menurutnya, Jembatan Nibung berpotensi menjadi jalur strategis yang mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan pesisir timur Kalimantan. Dengan akses darat yang lebih lancar, mobilitas warga dan distribusi komoditas dapat berlangsung tanpa hambatan waktu maupun ketergantungan pada transportasi air.
Secara ekonomi, keberadaan jembatan diyakini akan memangkas biaya logistik serta mempercepat arus barang antarwilayah. Produk pertanian dan hasil laut yang sebelumnya terkendala pengiriman kini dapat dipasarkan lebih luas dan lebih cepat. Selain itu, kawasan yang selama ini relatif terisolasi dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi sentra ekonomi baru.
Dari sisi sosial, dampaknya juga signifikan. Anak-anak sekolah tidak lagi menunggu perahu penyeberangan, dan warga yang membutuhkan layanan kesehatan dapat menjangkau fasilitas medis dengan waktu tempuh lebih singkat. Aktivitas harian masyarakat pun menjadi lebih fleksibel dan aman.
Penyelesaian Jembatan Nibung sekaligus menjadi pesan bahwa proyek lama yang mangkrak bukan berarti tidak bisa diselamatkan. Dengan konsistensi kebijakan dan keberlanjutan komitmen, pembangunan yang sempat terhenti dapat dilanjutkan hingga tuntas.
Dalam kesempatan itu, gubernur juga mengingatkan pentingnya kesinambungan tanggung jawab dalam pemerintahan. Ia menilai, pergantian pemimpin tidak boleh menjadi alasan terhentinya proyek yang menyangkut kepentingan rakyat.
“Tidak ada pekerjaan yang tidak selesai sepanjang kita punya niat dan komitmen yang kuat. Pemimpin boleh berganti, tetapi tanggung jawab kepada rakyat tidak boleh berhenti,” katanya.
Kini, Jembatan Nibung bukan hanya penghubung dua daratan, melainkan fondasi baru bagi pertumbuhan kawasan pesisir Kutai Timur. Infrastruktur ini diharapkan menjadi pemicu percepatan pembangunan yang lebih merata dan berkelanjutan di Kalimantan Timur.

